Semarfm.com – Teramang Jaya : Media sosial merupakan tempat berbagi kebaikan, berbagi keluh kesah, menyalurkan bakat, bahkan ada yang tanpa sadar menjadikan media sosial sebagai ‘ajang pamer’. Walau mungkin pada awalnya pengguna tersebut hanya iseng dalam membuat akun media sosial.

Seperti dua mata koin yang berbeda, media sosial pun memiliki dua sisi yang berbeda, baik maupun buruk. Di satu sisi membantu membangun jaringan dan memperluas interaksi sosial.

Foto : Ilutrasi

Sementara, di sisi lain memiliki risiko yang berdampak pada aspek kehidupan manusia. Bagi sebagian pengguna media sosial, foto yang diunggah atau status yang ditulis oleh orang lain yang terkesan pamer akan membuatnya iri. Dampak selanjutnya akan membuatnya membandingkan diri dengan orang yang mengunggah foto tersebut. Dalam psikologi, hal ini disebut sebagai social comparison.

Akhir – akhir ini media sosial terutama Facebook banyak warganet memamerkan tentang prestasi anak – anaknya. Namun tidak demikian dengan pengguna Facebook yang diduga dari Kecamatan Teramang Jaya Kabupaten Mukomuko. Dalam unggahanya warganet ini mempertanyakan tentang rapor anaknya yang tidak diberikan oleh pihak sekolah

Dapat dibayangkan saat teman-temannya menerima rapot seorang siswa kelas satu tidak menerimanya. Dengan kepolosanya, RL (7), siswa kelas satu SDN 06 Kecamatan Teramang Jaya Kabupaten Mukomuko ini hanya dapat mengadu kepada orang tuanya karena rapotnya tidak dikasihkan oleh gurunya sebagaimana kawan – kawan lainnya dalam pembagian rapor di sekolah sabtu (21/12 /2019)

Orang tua RL, LN saat menerima laporan putranya kebingungan dan mengungkapkan kebingunganya di media sosial Facebook
” Kenapa rapot RL d tahan sdngkn yg lain udhbdd bgi kn rapot ya .kashn ramli prgi ke sekolah dk dpt rapot ada sbnr ya patut d prtnyakn” curhatnya

Sementara seorang warganet IM yang diduga seorang guru di sekolah tersebut memberi komentar
” ma,af buk,,mungkin ketrampilan nya belum d kumpul tu buk,,,dengan d tahannya rapor supaya anak2 patuh dgn peraturn,,
Msalah nya kami ngajari anak seperti itu supaya anak2 tidak jadi kebiasaan tidak taat dgn peraturn,,
Jngn salah kn kami sebagai guru,,
Klau nggak ada msalah nggak mungkin guru menahan rapor nya buk”jelasnya

Di kolom komentar lainya, seorang warnet ML menanyakan tentang dana
“Yuk mgo yng 30 tu lh yuk bayar apo blum, mukin keliru ndk yuk,mlpi kan ado gncek kek mb kemaren klw orang blm byar mgo 30 idak dpek lapor kcek mlpi” ucapnya

Saat dikonfirmasi semarfm.com sabtu (21/12 /2019) orang tua Ramli mengatakan jika sampai saat ini belum menerima rapot putranya
” Rapot anak saya belum dikasih sampai sekarang” ungkapnya

Mengenai uang Rp. 30.000,00 tersebut lanjut LN, dipungut oleh pihak sekolah untuk biaya pembangunan lapangan bola kaki
” uang itu dipungut sekolah permurid Rp. 30.000,00 untuk pembangunan lapangan bola kaki” ungkapnya

Senada dengan LN, ML yang juga wali murid disekolah yang sama mengatakan jika dirinya juga dimintai pungutan dari sekolah
” Iya betul dipungut biaya Rp. 30 ribu untuk pembangunan lapangan bola kaki” ucapnya

Pewarta YN