Radio Semarfm – Mukomuko – Sejak mulai dari pembangunan sampai dengan saat ini, Pembangunan Gedung Rawat Inap MICU dan Ruang Gizi RSUD Mukomuko selalu saja menjadi perbincangan dan sorotan mulai dari kalangan biasa, LSM sampai dengan anggota DPRD. Akhirnya pihak Rumah Sakit Daerah (RSUD) Mukomuko, menjelaskan bahwa bangunan gedung Rawat Inap MICU dan Ruang Gizi (RIM-RG), yang berada dalam komplek RSUD tersebut dimana kedua bangunan tersebut mendapat jaminan dari Penyedia selama 10 ( sepuluh ) tahun apabila ada kerusakan yang disebabkan kesalahan atau kegagalan konstruksi bukan karena bencana  alam, seperti yang disampaikan oleh Harnovi S.KM, M.A.P,  Kabid Pelayanan Medis sekaligus sebagai PPK pembanguan  2 gedung tersebut”. Bangunan tersebut di PHO pada tanggal 19 Desember 2017. Dijelaskan oleh Harnovi sampai dengan batas waktu, selama sepuluh tahun, kerusakan yang tidak diakibatkan olek Bencana Alam, maka pihak penyedia, bersedia dan bertanggung jawab. Pembangunan 2 gedung tersebut telah menelan dana sebesar Rp 12,1 milyar.

Novi  memaparkan terlepas dari permasalahan ataupun resiko yang terjadi. Terkait dengan teknis dan konstruksi bangunan baru tersebut. Pihaknya bersama-sama tim Provisional Hand Over (PHO), serta pihak rekanan dan konsultan perencana/pengawas, telah menyepakati kesepakatan dalam bentuk berita acara. Serta telah pula ditandatangani oleh semua pihak yang terlibat, terkait pembangunan RIM-GR. Perjanjian bersama-sama  telah disepakati dengan seksama bertuliskan antara lain, pada poin pokok persoalannya, berbunyi : Bilamana timbul dan terjadi kerusakan atas gedung baru tersebut, serta telah dilakukan PHO pada akhir Desember 2017. Apabila terjadi kerusakan yang tidak diakibat oleh Bencana Alam, maka pihak kontraktor harus bertanggung jawab sepenuhnya. Diakui, di mana lahan keberadaan gedung RIM-GR itu berdiri, masih mengalami penurunan hingga sekarang. Seperti yang telah dilansir beberapa media  belum lama ini, telah terjadinya semacam kerusakan, akibat ada bagian pondasinya mengalami penurunan. Dan hal tersebut, telah rampung dikerjakan. Terhadap bagian dinding belakang bangunan yang dilakukan pembobok serta keramiknya tersebut.

Dikatakan Novi, gedung baru yang belum bisa dimanfaatkan itu, masih dalam tanggung jawab dari pihak pelaksana proyek. Yakni PT. Bakti Muda Mandiri (BMM), termasuk tentang adanya kerusakan (Dalam Masa Perawatan, red). Karena berdasarkan kesepakatan dengan semua pihak terlibat. Masa perawatan, atas gedung itu, dalam masa tenggang waktu sampai (Enam Bulan) sejak dari PHO.“Dalam berita acara kesepakatan itu setelah dilakukan PHO, dituangkan serta berbunyi : Apabila kerusakan yang terjadi, terkait bangunan baru yang dimaksud, yang tidak diakibatkan oleh Bencana Alam. Maka pihak kontraktor bersangkutan, diharuskan betanggung jawab. Bahkan dianjurkan pula, semacam jaminan dari tim pemdamping tenaga ahli, yakni  Pak Jawoto yang juga merupakan salah satu Dosen di Universitas Swasta di Bengkulu. Yang berbunyi, sampai dengan batas tenggang waktu selama 10 (sepuluh) tahun, pihak pelaksana harus bertanggung jawab sepenuhnya.  Perjanjian itu diketahui juga oleh pihak penegak hukum setempat, yang bertindak sebagai pihak pendamping. Memang konstruktur pada tanah di lahan itu, masih tergolong labil. Yang terus mengalami penurunan, hingga saat ini”, ungkap Novi. Lebih jauh Novi mengatakan “apabila terjadi semacam kerusakan terkait bangunan itu, pihaknya langsung segera menghubungi pihak pelaksana, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu dilakukan pembobokan pada bagian dinding belakangnya, yang memang benar mengalami penurunan pada lahan bangunan itu”, demikian Harnovi, menjelaskan di ruang kerjanya, Rabu (28/2).

Menurut pegamatan media ini dilapangan memang sudah dilakukan pekerjaan perawatan termasuk pemasangan Borpoil dengan diameter 30 cm di 8 titik di Bangunan Micu dan 4 titik di Ruang Gizi serta dilakukan pembersihan.